Asma dan Sifat Allah
بسم الله الرحمن الرحيم
Salah satu perbedaan orang muslim dengan
penyembah berhala ialah bahwa para penyembah berhala itu membuat-buat sesuatu,
memberinya nama, memberinya suatu sifat, membela-belanya, berjuang
mempertahankannya, dan menyembahnya sendiri. Penyembah patung membuat
patung sendiri, memberinya suatu nama tertentu, menganggapnya memiliki
suatu keistimewaan tertentu layaknya tuhan, membela-bela dan
memperjuangkannya, serta menyembahnya sendiri.
Sementara umat
Islam sebaliknya. Umat Islam menyembah tuhan yang telah ada tanpa mereka
buat terlebih dahulu, memiliki nama, sifat, dan keagungan-keagungan yang telah ada
tanpa mereka buat-buat. Umat Islam tidak mengutak-atik masalah keyakinan
mereka. Umat Islam mempunyai keyakinan sebagaimana yang diajarkan oleh
para utusan/nabi/rasul. Termasuk di dalamnya adalah mengenai nama dan
sifat tuhan mereka, yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aalaa.
Salah satu
ulama yang menjelaskan demikian adalah Imam Abu Manshur al Baghdadi. Beliau
memiliki karya yang berjudul al Farq bayna al Firaq (Perbedaan diantara
kelompok-kelompok Islam) yang menjadi salah satu kitab rujukan Ahlussunnah wal
Jama'ah.
Terdapat 5 bab dalam kitab tersebut:1. menjelaskan maksud dari hadits "iftiraq" (terpecahnya umat Islam),
2. kelompok mana saja yang termasuk dalam kelompok Islam,
3. membongkar kedok/ciri-ciri kelompok ahlul ahwaa' adl dlaallah (pengikut hawa nafsu yang sesat),
4. kelompok mana saja yang mengaku sebagai kelompok Islam padahal sejatinya bukan,
5. menjelaskan seluk beluk firqah najiyah (kelompok yang selamat).
Bab
5 tersebut memuat beberapa pasal, diantaranya adalah tentang hal-hal mendasar
yang disepakati oleh kaum ahlussunnah wal jama'ah.
Beliau menuliskan:
قد
اتفق جمهور أهل السنة والجماعة على أصول من أركان الدين، كل ركن منها يجب
على كل عاقل بالغ معرفة حقيقته، ولكل ركن منخا شعب، وفي شعبها مسائل اتفق
أهل السنة فيها على قول واحد، وضلّلوا من خالفهم فيها
"Telah
sepakat mayoritas ahlussunnah wal jama'ah dalam beberapa hal mendasar yang
merupakan bagian/hal besar dalam agama. Setiap bagian ini harus diketahui
oleh setiap orang berakal yang baligh. Dan setiap bagian ini memiliki
cabang-cabang yang memuat beberapa permasalahan yang dalam hal ini, kaum
ahlussunnah sepakat dengan satu suara/pendapat, dan mereka menyesatkan
orang yang berbeda pendapat dengan mereka."
Kemudian beliau menuliskan:
وقالوا
في الركن الخامس: وهو الكلام في أسماء الله تعالى وأوصافه: إنّ مأخذ أسماء
الله تعالى التوقيف عليها: إما بالقرآن، وإما بالسنة الصحيحة، وإما بإجماع
الأمّة عليه، ولا يجوز إطلاق اسم عليه من طريق القياس. الخ
"Ahlussunnah
mengatakan dalam bagian ke-5, yakni pembicaraan tentang asma dan sifat-sifat
Allah Ta'aalaa:
Sesungguhnya cara mengambil/menetapkan asma Allah adalah dengan jalan tauqif
(ikut, patuh, apa adanya) pada al Qur-an, hadits shahih, dan ijma'
(kesepakatan) umat dalam masalah ini. Dan tidak diperbolehkan
mengucapkan/menetapkan asma Allah dengan cara qiyas (membandingkan,
mereka-reka, menimbang-nimbang)"
Salah satu contoh orang yang berqiyas dalam
asma Allah yang disebutkan beliau adalah orang Mu'tazilah. al Jubbaa-i, salah satu
pemimpin Mu'tazilah menyifati/memberi nama Allah dengan sifat "Muthii'"
(Dzat yang patuh), karena Allah mengabulkan permintaan hamba-Nya.
Sedangkan
ahlussunnah, dijelaskan dalam kitab ini, sepakat bahwa Allah memiliki 99
nama yang juga kita sebut sebagai Asmaa-ul Husnaa, sebagaimana diterangkan dalam
hadits shahih. Nama Allah yang 99 ini juga merupakan sifat bagi Allah.
Allaah berfirman:
(وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) [Surat Al-Araf : 180]
"Dan milik Allah Asmaa-ul Husnaa, maka
berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husnaa itu, dan tinggalkanlah
orang-orang yang melakukan ilhaad (menyimpang) dalam menyebut nama-nama-Nya. Mereka
akan mendapatkan balasan atas apa yang mereka lakukan."
Artinya, umat Islam hanya boleh menyebut Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat yang layak bagi Allah. Dan hukum ber-ilhaad atau membuat-buat nama/sifat Allah selain yang ada dalam Qur'an dan hadits shahih adalah haram.
Artinya, umat Islam hanya boleh menyebut Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat yang layak bagi Allah. Dan hukum ber-ilhaad atau membuat-buat nama/sifat Allah selain yang ada dalam Qur'an dan hadits shahih adalah haram.
Lafadh
Jalaalah "Allaah" adalah nama yang paling agung bagi Allah, dan tidak
merupakan sifat bagi Allah, dan tidak juga termasuk Asmaa-ul Husnaa.
Selain
sifat yang ada dalam asmaa-ul husnaa, Allah juga memiliki 20 sifat wajib
(sifat yang pasti dimiliki Allah), 20 sifat mustahil (sifat yang tidak
mungkin dimiliki Allah), dan 1 sifat ja-iz (sifat yang boleh dimiliki oleh
Allah).
Sifat-sifat ini diambil dalam Qur'an dan hadits shahih, baik secara implisit
maupun eksplisit. Ada diantara sifat-sifat ini yang tidak secara lugas
disebutkan dalam nash, bahwa Allah memiliki sifat tersebut, tapi secara
ma'na/implisit sudah terkandung dalam nash. Maka umat Islam bersepakat bahwa
Allah memiliki sifat tersebut.
Memahami makna asmaa-ul husna, sifat
wajib, mustahil, dan ja-iz Allah haruslah hati-hati, yakni dengan
mempelajarinya di hadapan guru yang terpercaya. Jika tidak, dikhawatirkan
akan terjadi salah paham yang akan berakibat fatal pada keyakinannya
mengenai Allah, yang artinya juga dapat berakibat fatal pada status
keislamannya dan keimanannya.
Na'uudzu billaah...
Na'uudzu billaah...
Pada akhirnya, saya menasihati diri saya dan
para pembaca dengan nasihat syaikh Abdul Qadir al Jilani:
"Jika seorang murid mengetahui kesalahan dari syaikhnya maka hendaklah murid itu mengingatkan syaikhnya itu. Jika syaikhnya meruju' kesalahannya itu maka itulah yang diharapkan. Jika tidak, maka perkataan guru itu harus ditinggalkan dan syari'at harus diikuti."
"Jika seorang murid mengetahui kesalahan dari syaikhnya maka hendaklah murid itu mengingatkan syaikhnya itu. Jika syaikhnya meruju' kesalahannya itu maka itulah yang diharapkan. Jika tidak, maka perkataan guru itu harus ditinggalkan dan syari'at harus diikuti."
Semoga kita
terhindar dari fanatik buta, terhindar dari maksiat ilhaad (menyifati
Allah dengan sifat yang tidak layak bagi Allah), dan diselamatkan dari
keburukan ahli ilhaad.
Aamiin...
Aamiin...
والله أعلم وأحكم...
**************************************************************************************************************************************************************************************************
Abu Hayyan al Andalusi berkata dalam syairnya :
Abu Hayyan al Andalusi berkata dalam syairnya :
يظنّ الغمرأنّ الكتب تهدي # أخا جهل لإدراك العلوم
وما يدري الجهول بأنّ فيها # غوامض حيّرت عقل الفهيم
إذا رمت العلوم بغير شيخ # ضللت عن الصراط المستقيم
وتشتبه الأمور عليك # حتي تصير أضلّ من تومى الحكيم
Banyak orang mengira bahwa kitab-kitab dapat menunjukkan orang bodoh untuk mendapatkan ilmu
Namun mereka tidak tahu bahwa di dalam kitab-kitab itu terdapat hal-hal rumit yang membingungkan akal orang yang dapat memahami
Dan jika engkau menuntut ilmu tanpa guru maka engkau akan tersesat dari jalan yang lurus
Dan banyak hal yang menjadi rumit dan rancu sehingga engkau akan lebih tersesat dari pada Tuma al Hakim
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
إنما يؤخذ العلم من أفواه العلماء
"Ilmu hanya dapat diambil dari lisan para ulama"
**************************************************************************************************************************************************************************************************
Komentar
Posting Komentar
Thankyou for your attention...
leave your comment...