Belajar (tidak boleh) Dengan Baca Kitab (saja)
Suatu saat, ada seorang laki-laki datang ke Ka'bah untuk berthawaf di Ka'bah. Namun, ada hal yang tidak wajar yang dilakukannya. Ia berthawaf dengan membawa pisau dan sebilah kayu serta berkalungkan bangkai tikus!!!
Ketika ditanya, mengapa berthawaf demikian, dia menjawab: "Ini yang saya dapat ketika saya membaca kitab Fiqh! Dalam kitab tersebut, terdapat keterangan:
ويطوف الحاج بسِكـِّينة وخَشبَة وفأر
"Orang yang haji berthawaf dengan membawa pisau, kayu, dan tikus"
Itulah mengapa saya melakukan ini!"
Kemudian, dibukalah kitab yang dimaksud, dan ternyata yang ada dalam kitab itu sungguh berbeda:
ويطوف الحاج بسَكِينة وخَشيَة ووِقاَر
"Orang yang haji berthawaf dengan tenang, khusyu', dan tenang"
Nah, rupanya dia membaca kitab tanpa bimbingan guru, dan itu menyebabkan dia salah membaca dan memahami kitab.
Dalam kitab, tertulis سَكِينة (sakiinatin; tenang) dan ia baca سِكـِّينة (sikkiinah; pisau). Dalam kitab, tertulis خَشيَةٍ (khasy-yatin; khusyu') dan ia baca خَشبَةٍ (khasybatin; kayu). Dalam kitab, tertulis وِقاَر (wiqaarin; tenang) dan ia baca وَفـَأر (wafa'rin; dan tikus).
Terlepas dari apakah cerita ini nyata atau tidak, cerita ini cukup memberikan kita sebuah pelajaran penting dalam mempelajari agama, yakni:
"Belajar agama tidak cukup hanya dengan memuthala'ah kitab atau membaca tulisan-tulisan tanpa adanya guru"
Metode belajar agama yang benar adalah dengan talaqqi, bersimpuh di hadapan guru yang terpercaya dan memiliki sanad ilmu yg brsambung hingga Rasulullah, kita mendengar penjelasannya, atau kita membaca dan menjelaskan kitab di hadapan guru dan guru itu menyimak kita.
Inilah metode yang diajarkan Rasulullaah dan diturunkan oleh para shahabat pada generasi setelahnya. Allaah berfirman:
عَلـًّمَهُ شَدِيدُ القـُوَى
Maknanya: "Rasulullaah diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat"
Para ulama berkata:
لا يؤخذ العلم إلا من أفواه العلماء
"Ilmu hanya dapat diperoleh dari mulut para ulama"
Ada beberapa hal yang kita takutkan ketika kita membaca tanpa guru:
1. Lemahnya kemampuan kita memahami kitab yang kita baca
2. Adanya kesalahan tulisan dalam kitab
3. Adanya orang tidak bertanggungjawab yang menghapus sebagian kalimat dalam kitab atau menyisipkan kalimat yang bukan dari pengarang.
4. Ketidaktahuan kita apakah pengarang kitab itu bertanggungjawab atau bukan, terlebih sekarang ini semua orang "merasa" bebas menulis dan menerbitkan kitab/bukunya"
**************************************************************************************************************************************************************************************************
Abu Hayyan al Andalusi berkata dalam syairnya :
Banyak orang mengira bahwa kitab-kitab dapat menunjukkan orang bodoh untuk mendapatkan ilmu
Namun mereka tidak tahu bahwa di dalam kitab-kitab itu terdapat hal-hal rumit yang membingungkan akal orang yang dapat memahami
Dan jika engkau menuntut ilmu tanpa guru maka engkau akan tersesat dari jalan yang lurus
Dan banyak hal yang menjadi rumit dan rancu sehingga engkau akan lebih tersesat dari pada Tuma al Hakim
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ilmu hanya dapat diambil dari lisan para ulama"
***************************************************************************************************************************************************************************************************
Ketika ditanya, mengapa berthawaf demikian, dia menjawab: "Ini yang saya dapat ketika saya membaca kitab Fiqh! Dalam kitab tersebut, terdapat keterangan:
ويطوف الحاج بسِكـِّينة وخَشبَة وفأر
"Orang yang haji berthawaf dengan membawa pisau, kayu, dan tikus"
Itulah mengapa saya melakukan ini!"
Kemudian, dibukalah kitab yang dimaksud, dan ternyata yang ada dalam kitab itu sungguh berbeda:
ويطوف الحاج بسَكِينة وخَشيَة ووِقاَر
"Orang yang haji berthawaf dengan tenang, khusyu', dan tenang"
Nah, rupanya dia membaca kitab tanpa bimbingan guru, dan itu menyebabkan dia salah membaca dan memahami kitab.
Dalam kitab, tertulis سَكِينة (sakiinatin; tenang) dan ia baca سِكـِّينة (sikkiinah; pisau). Dalam kitab, tertulis خَشيَةٍ (khasy-yatin; khusyu') dan ia baca خَشبَةٍ (khasybatin; kayu). Dalam kitab, tertulis وِقاَر (wiqaarin; tenang) dan ia baca وَفـَأر (wafa'rin; dan tikus).
Terlepas dari apakah cerita ini nyata atau tidak, cerita ini cukup memberikan kita sebuah pelajaran penting dalam mempelajari agama, yakni:
"Belajar agama tidak cukup hanya dengan memuthala'ah kitab atau membaca tulisan-tulisan tanpa adanya guru"
Metode belajar agama yang benar adalah dengan talaqqi, bersimpuh di hadapan guru yang terpercaya dan memiliki sanad ilmu yg brsambung hingga Rasulullah, kita mendengar penjelasannya, atau kita membaca dan menjelaskan kitab di hadapan guru dan guru itu menyimak kita.
Inilah metode yang diajarkan Rasulullaah dan diturunkan oleh para shahabat pada generasi setelahnya. Allaah berfirman:
عَلـًّمَهُ شَدِيدُ القـُوَى
Maknanya: "Rasulullaah diajari oleh (Jibril) yang sangat kuat"
Para ulama berkata:
لا يؤخذ العلم إلا من أفواه العلماء
"Ilmu hanya dapat diperoleh dari mulut para ulama"
Ada beberapa hal yang kita takutkan ketika kita membaca tanpa guru:
1. Lemahnya kemampuan kita memahami kitab yang kita baca
2. Adanya kesalahan tulisan dalam kitab
3. Adanya orang tidak bertanggungjawab yang menghapus sebagian kalimat dalam kitab atau menyisipkan kalimat yang bukan dari pengarang.
4. Ketidaktahuan kita apakah pengarang kitab itu bertanggungjawab atau bukan, terlebih sekarang ini semua orang "merasa" bebas menulis dan menerbitkan kitab/bukunya"
**************************************************************************************************************************************************************************************************
Abu Hayyan al Andalusi berkata dalam syairnya :
يظنّ الغمرأنّ الكتب تهدي # أخا جهل لإدراك العلوم
وما يدري الجهول بأنّ فيها # غوامض حيّرت عقل الفهيم
إذا رمت العلوم بغير شيخ # ضللت عن الصراط المستقيم
وتشتبه الأمور عليك # حتي تصير أضلّ من تومى الحكيم
Banyak orang mengira bahwa kitab-kitab dapat menunjukkan orang bodoh untuk mendapatkan ilmu
Namun mereka tidak tahu bahwa di dalam kitab-kitab itu terdapat hal-hal rumit yang membingungkan akal orang yang dapat memahami
Dan jika engkau menuntut ilmu tanpa guru maka engkau akan tersesat dari jalan yang lurus
Dan banyak hal yang menjadi rumit dan rancu sehingga engkau akan lebih tersesat dari pada Tuma al Hakim
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
إنما يؤخذ العلم من أفواه العلماء
"Ilmu hanya dapat diambil dari lisan para ulama"
***************************************************************************************************************************************************************************************************
Komentar
Posting Komentar
Thankyou for your attention...
leave your comment...